Terkadang ada saatnya kita begitu kecewa sehingga kita butuh suatu cara pelepasan emosi kita agar kita kembali percaya diri, fokus dan produktif. Inilah cara saya melepaskan emosi tersebut, dengan menulis diary yang bisa diakses siapa saja.
Saya baru saja mengalami suatu kekecewaan.
Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri. Saya kecewa melihat bagaimana seorang yang berumur 26 tahun masih belum bisa mengatur dirinya sendiri dengan baik, sungguh..sungguh tidak seharusnya seperti itu.
Seseorang itu adalah saya sendiri.
Saya sungguh yakin melalui pengalaman yang mengecewakan, seseorang terbentur-bentur dalam tembok-tembok realita kehidupan yang akan dengan jujur mengungkapkan kenyataan dirinya saat ini.
Kalimat barusan membuat saya tidak begitu down, sebab saya akui emosi yang menyakitkan saat terbentur pasti ada, misalnya, kecewa saat kita dihadapkan dengan kenyataaan yang pahit.
Tapi setelah tembok-tembok realitas kehidupan menghempaskan kita, reaksi seseorang sesudahnya hanya ada dua : 1.Reaksi positif, yaitu secepat mungkin meningkatkan kualitas dirinya sampai diri kita cukup kuat untuk melewati realitas2 yang sebelumnya menghempaskan dirinya dengan tidak membiarkan emosi yang menyakitkan itu menyakitkan dirinya untuk kedua kalinya
2.Reaksi negatif, melupakan atau membiarkan realitas kehidupan menahan potensi dalam dirinya, mungkin disebabkan karena dirinya masih bisa merasa nyaman kembali setelah ditempa realitas yang pahit tadi dan akibatnya ia tidak segera beranjak dari kenyataan dirinya yang lemah.
Pastilah semua orang ingin hal-hal yang positif dalam kehidupannya, tetapi harga yang mahal pastilah harus dibayarnya, mahal ini relatif, bagi orang yang sudah 10 tahun merokok, menghentikan kebiasaan ini adalah harga yang mahal, tapi mungkin bagi yang baru 1 minggu, harganya tidak semahal yang sudah 10 tahun merokok. Selanjutnya tinggal bagaimana seseorang berani membayar harganya.
Saya menantang integritas diri saya untuk maju dan beranjak dari kenyataan diri yang belum cukup baik saat dihadapkan dengan realitas kehidupan.
Langkah pertama saya adalah dengan mempublikasikan hal ini kepada publik, sehingga hal ini akan membatasi ruang gerak saya untuk kembali ke kebiasaan-kebiasaan yang merugikan dan menggantikannya dengan kebiasaan baru yang positif.
“Kebiasaan baik biasanya lahir dari sesuatu yang menyakitkan” – Ryan
